Showing posts with label Sunnah Rasulullah. Show all posts
Showing posts with label Sunnah Rasulullah. Show all posts

Friday, 18 May 2012

SALAHSILAH TARIKAT NAQSABANDIAH DI KUALA KANGSAR




INILAH SALASILAH TARIQAT NAQSYABANDIYAH AL-KHOLIDIAH YANG BERKEMBANG DARI BABUSSALAM TANJUNG PURA (LANGKAT), SUMATERA UTARA INDONESIA HINGGA KE MALAYSIA.

1).MUHAMMAD RASULLULLAHHU ALAIHIWASSALAM PENGHULU SELURUH ALAM.BELIAU MENUMPAHKAN RAHSIA INI KEPADA;
2). ABU BAKAR AS-SIDIQ RADIALLAHUAN.
3). SALMAN AL-FARISY RADIALAHHUAN KEMUDIAN KEPADA;
4). QASIM BIN MUHAMMAD B.ABU BAKAR AS-SIDIQ R.A,
5). IMAM JAAFAR SIDIQ R.A,
6). ABU YAZID BUSTAMI R.A,
7). ABU HASSAN KHARQANI R.A,
8). ABU ALI FRMADY R.A,
9). SHEIKH YUSUF HAMDANI QADASSALLAH,
10).SHEIKH ABD.KHALID FAJADUANI,Q.S
11).SHEIKH ARIF RIYAU GHARI Q.S,
12).SHEIKH MAHMUD ANJARI A.S,
13).SHEIKH ALI RAMATHANI Q.S,
14).SHEIKH MUHAMMAD BABUSSAMASI,
15).SHEIKH AMIR KULALI,
16).SHEIKH BAHAUDIN SHAH NAQSABANDI,
17).SHEIKH MUHAMMAD ALAUDDIN A'THARI,
18).SHEIKH YAAKUP CHARKI,
19).SHEIKH ABDULLAH AHRARI SAMAR QANDI,
20).SHEIKH MUHAMMAD ZAHIDI,
21).SHEIKH DARWIS MUHAMMAD,
22).SHEIKH MUHAMMAD KHAUJAKI AMKANAKI,
23).SHEIKH MUHAMMAD BAQI BILLAHI,
24).SHEIKH MUHAMMAD FARUQI SARHINDI,
25).SHEIKH MUHAMMAD MAKSOM,
26).SHEIKH SHAIFUDIN,
27).SHEIKH NUR MUHAMMAD BADAWANI,
28).SHEIKH SHAMSUDIN HABIBULLAH JAN JANANI,
29).SHEIKH ABDULLAH DAHLAWI,
30).SHEIKH MAULANA KHALID QARDI, LAHIR 1193 WAFAT 1239H,
31).SHEIKH ABDULLAH AFANDY,
32).SHEIKH SULAIMAN QARIMI,
33).SHEIKH SULAIMAN ZUHDI, yang menetap di Jabal Qubis, Makah Al-Mukarramah.
34).SHEIKH ABD WAHAB ROKAN AL-KHOLIDI, yang menetap di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, Indonesia.
35).SHEIKH HAJI SARIF yang tinggal di Temong, Kuala Kangsar, Perak.
36).SHEIKH HAJI AHMAD PANAI yang menetap di Kg. Lintang, Sungai Siput(U), Perak.
37) HAJI AHMAD SYARANI BIN HAJI AZMIR

Murshid: Tuan Hj Ahmad Syarani bin Tn Hj Azmir.
Markas dan Pusat Suluk: Kg. Jerlun, Kuala Kangsar Perak.-Pengganti kepada Mursyid awal-Allahyarham Tn Syeikh Hj Abdul Wahab bin Abdul Manaf. (Panggilan : Pak Yob)

Tuesday, 15 May 2012

Doa Harian

Imam Al Ghazali


  

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Imam Al-Ghazali (450 H/1058M—505 H/1111M) dan beberapa sufi lainnya sesungguhnya sudah lama memperkenalkan model kecerdasan spiritual dengan beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep mukasyafah dan ma'rifah.

Menurut Al-Ghazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (penyingkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan.

Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa, termasuk perbuatan dosa dan maksiat. Mukasyafah merupakan sasaran terakhir para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya di atas kepastian.

Kepastian yang mutlak tentang kebenaran hanya mungkin dapat dicapai ketika roh tidak lagi terselubung khayalan dan pikiran. (Lihat mukadimah Ihya' Ulumuddin).

Kecerdasan spiritual, menurut Al-Ghazali, dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, diturunkan Allah kepada nabi-Nya untuk disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk-Nya. Sedangkan, ilham hanya merupakan pengungkapan (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan langsung masuk ke dalam batin seseorang.

Al-Ghazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali, tetapi diperuntukkan kepada siapa pun yang diperkenankan oleh Allah. Menurut dia, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini, Al-Ghazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi.

Ilham berada di wilayah supra consciousness, sedangkan intuisi hanya merupakan sub-consciousness. Allah SWT sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah itulah yang disebut 'ilm al-ladunni oleh Al-Ghazali. (Lihat karyanya, Risalah al-Ladunniyyah).

Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai karena kepandaian itu dari Allah. Al-Ghazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip surah Al-Baqarah: 269. "Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."

Al-Ghazali mengakui adanya hierarki kecerdasan, dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia.

Namun, ia menyatakan, hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akal (al-aql) dan kecerdasan spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan rohani, ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.

Agak sejalan dengan Ibnu Arabi yang menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu pengetahuan kudus (ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (ilm al-asrar), dan ilmu pengetahuan tentang gaib (ilm al-gaib).

Ketiga jenis ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual (Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyyah, Juz IV, hlm 394).

Tentang kecerdasan intelektual, Ibnu Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah manusia mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.

Al-Ghazali dan Ibnu Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksesibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Ghazali, jika seseorang mampu menyinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada dirinya, maka yang bersangkutan dapat 'membaca' alam semesta (makrokosmos/al-alam al-kabir).

Kemampuan itu merupakan anak tangga menuju pengetahuan tertinggi (makrifat) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta, menurut Al-Ghazali dan Ibnu Arabi, merupakan 'tulisan' atau bagian dari ayat-ayat Allah.

Al-Ghazali menuturkan, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi kemampuan mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain, dengan kemampuan membaca alam semesta tadi.

Fenomena kenabian bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk menerimanya. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, kenabian menjadi fenomena alami.

Keajaiban yang menyertai para rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral kenabian, tetapi hanyalah alat pelengkap alam mempercepat umat meyakini risalah para rasul itu.

Bahkan, menurut Al-Ghazali, semua manusia pada dasarnya memenuhi syarat menjadi nabi, namun Allah menentukan hanya sebagian kecil di antaranya yang dipilih. Seruan penggunaan model-model kecerdasan di dalam Alquran tidak secara parsial. Keunggulan manusia terletak pada kemampuannya menyinergikan ketiga kecerdasan tersebut.

Seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ) belum tentu memiliki kejujuran, kesabaran, dan ketaatan, karena sifat-sifat ini lebih ditentukan kecerdasan yang lebih tinggi, yakni kecerdasan emosional (EQ) atau kecerdasan spiritual (SI).

Sebaliknya, EQ dan SI tanpa dilengkapi IQ juga tidak akan banyak berarti karena kedua kecerdasan yang disebut pertama sesungguhnya merupakan kelanjutan dari kecerdasan IQ. Seseorang tidak akan sampai pada kecerdasan EQ dan SI tanpa melewati kecerdasan IQ.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, ketiga model kecerdasan itu sangat dibutuhkan terutama di kalangan pemimpin masyarakat dan lebih khusus lagi pemimpin perusahaan.

Menurut beberapa survei ahli manajemen, tingkat prestasi IQ yang dimiliki seorang manajer tidak berbanding lurus dengan tingkat prestasi perusahaan yang dipimpinnya. Seorang manajer dituntut memiliki kecerdasan ekstra berupa kecerdasan kedua (EQ) dan ketiga (SI).

Sebagai pribadi Muslim, sulit dibayangkan akan sukses menjadi abid (hamba) dan khalifah yang sukses tanpa memiliki secara seimbang ketiga model kecerdasan tersebut. Manusia paripurna (insan kamil) sesungguhnya tidak lain ialah orang yang mampu memadukan secara simultan ketiga kecerdasan tersebut di dalam dirinya.

Di sinilah kekhususan Al-Ghazali jika dibandingkan dengan Ibnu Arabi. Al-Ghazali masih tetap berpikir realistis di dalam mengembangkan pendapatnya. Ia masih tetap memandang penting kecerdasan ketiga atau apa pun namanya itu tetap dibumikan.

Ia mencela para sufi yang tidak realistis memandang kenyataan masyarakat. Mungkin itulah sebabnya ia dikategorikan sebagai penganut tasawuf akhlaqi. Berbeda dengan Ibnu Arabi yang dikategorikan sebagai penganut tasawuf falsafi.

Al-Ghazali mencela orang-orang yang sibuk dengan urusan sunah dan melalaikan ibadah fardhu, mengabaikan formalitas ibadah untuk substansi ibadah, mengabaikan substansi ibadah demi formalitas ibadah, dan waspada terhadap yang syubhat tetapi terjebak di dalam hal yang haram.

Al-Ghazali juga mencela para ilmuwan yang tidak memedulikan yang lain kecuali hanya ilmu, dengan kata lain ilmu untuk ilmu. Seolah-olah tidak ada tempat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

Al-Ghazali mencela ahli tasawuf yang sibuk dengan hakikat tetapi mengabaikan syariat, sibuk membahagiakan batinnya tetapi mengabaikan keluarga dan masyarakatnya, asyik dengan akhiratnya dan mengabaikan dunianya, mereka memuji prestasi spiritualnya lantas mengasingkan diri dengan orang lain, dan menganggap ilmu tasawuf paling istimewa dan paling benar, sibuk berpolemik soal hukum tapi tidak menghargai waktu, serta sibuk memperbanyak hukum dan peraturan tetapi semakin sedikit mengamalkannya.

Dalam soal muamalah, Al-Ghazali juga mencela ahli muamalah yang teperdaya karena banyak bermain di wilayah syubhat, sibuk menjalin hablun minannas tetapi melupakan hablun minallah, sibuk mengumpul harta tetapi tidak teliti menghitung zakatnya, dan sibuk melakukan inovasi tetapi mengabaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah.


Sunday, 13 May 2012

Tanda-tanda Mati



Tanda-tanda mati
100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.

60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.

40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu akan mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing.

7 hari : Mengidam makanan.

5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.

3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.

2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.

1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh and asar.

Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian belakang badan)

Seelok-eloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam and jangan lagi bercakap-cakap.

Untuk pengetahuan semua, pada hari ke-44 air mani lelaki dan telur wanita bercantum, Allah s.w.t. telah mencampurkan sekali tanah yang akan menjadi kubur kita nanti. Wallahua'lam
 

Mimpi Rasulullah SAW

9 Mimpi Nabi Muhammad SAW
Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:

"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya,maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-benderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidak pun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.


BERSABDA RASULULLAH SAW: "SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU
YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"

Tujuh Amalan