Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Imam Al-Ghazali (450 H/1058M—505 H/1111M) dan beberapa sufi lainnya sesungguhnya sudah lama memperkenalkan model kecerdasan spiritual dengan
beberapa sebutan, seperti dapat dilihat dalam konsep mukasyafah dan
ma'rifah.
Menurut Al-Ghazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah
(penyingkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari
berbagai hambatan.
Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan duniawi dan berbagai
penyakit jiwa, termasuk perbuatan dosa dan maksiat. Mukasyafah merupakan
sasaran terakhir para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan
meletakkan keyakinannya di atas kepastian.
Kepastian yang mutlak tentang kebenaran hanya mungkin dapat dicapai
ketika roh tidak lagi terselubung khayalan dan pikiran. (Lihat mukadimah
Ihya' Ulumuddin).
Kecerdasan spiritual, menurut Al-Ghazali, dapat diperoleh melalui wahyu
dan atau ilham. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal
yang tidak dapat dilihat secara umum, diturunkan Allah kepada nabi-Nya
untuk disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk-Nya. Sedangkan,
ilham hanya merupakan pengungkapan (mukasyafah) kepada manusia pribadi
yang disampaikan langsung masuk ke dalam batin seseorang.
Al-Ghazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali, tetapi
diperuntukkan kepada siapa pun yang diperkenankan oleh Allah. Menurut
dia, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham
diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati,
bersih, dan lembut. Dari sini, Al-Ghazali tidak setuju ilham disebut
atau diterjemahkan dengan intuisi.
Ilham berada di wilayah supra consciousness, sedangkan intuisi hanya
merupakan sub-consciousness. Allah SWT sewaktu-waktu dapat saja
mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang
diperoleh secara langsung dari Allah itulah yang disebut 'ilm al-ladunni
oleh Al-Ghazali. (Lihat karyanya, Risalah al-Ladunniyyah).
Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya
tidak akan menjadi pandai karena kepandaian itu dari Allah. Al-Ghazali
mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip surah Al-Baqarah: 269. "Allah
menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Alquran dan
Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi
al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari
firman Allah)."
Al-Ghazali mengakui adanya hierarki kecerdasan, dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia.
Namun, ia menyatakan, hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian,
yaitu kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akal (al-aql) dan
kecerdasan spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan rohani,
ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik.
Agak sejalan dengan Ibnu Arabi yang menganalisis lebih mikro lagi
tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat
ilmu pengetahuan ini, yaitu pengetahuan kudus (ilm al-ladunni), ilmu
pengetahuan misteri-misteri (ilm al-asrar), dan ilmu pengetahuan tentang
gaib (ilm al-gaib).
Ketiga jenis ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat diakses oleh
kecerdasan intelektual (Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyyah, Juz IV, hlm
394).
Tentang kecerdasan intelektual, Ibnu Arabi cenderung mengikuti pendapat
Al-Hallaj yang menyatakan intelektualitas manusia tidak mampu memahami
realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah manusia mampu
memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas.
Al-Ghazali dan Ibnu Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar
aksesibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Ghazali, jika seseorang
mampu menyinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada
dirinya, maka yang bersangkutan dapat 'membaca' alam semesta
(makrokosmos/al-alam al-kabir).
Kemampuan itu merupakan anak tangga menuju pengetahuan tertinggi
(makrifat) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta, menurut Al-Ghazali
dan Ibnu Arabi, merupakan 'tulisan' atau bagian dari ayat-ayat Allah.
Al-Ghazali menuturkan, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi
kemampuan mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara
lain, dengan kemampuan membaca alam semesta tadi.
Fenomena kenabian bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi
peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk menerimanya. Dengan
pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, kenabian
menjadi fenomena alami.
Keajaiban yang menyertai para rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek
integral kenabian, tetapi hanyalah alat pelengkap alam mempercepat umat
meyakini risalah para rasul itu.
Bahkan, menurut Al-Ghazali, semua manusia pada dasarnya memenuhi syarat
menjadi nabi, namun Allah menentukan hanya sebagian kecil di antaranya
yang dipilih. Seruan penggunaan model-model kecerdasan di dalam Alquran
tidak secara parsial. Keunggulan manusia terletak pada kemampuannya
menyinergikan ketiga kecerdasan tersebut.
Seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ) belum tentu
memiliki kejujuran, kesabaran, dan ketaatan, karena sifat-sifat ini
lebih ditentukan kecerdasan yang lebih tinggi, yakni kecerdasan
emosional (EQ) atau kecerdasan spiritual (SI).
Sebaliknya, EQ dan SI tanpa dilengkapi IQ juga tidak akan banyak berarti
karena kedua kecerdasan yang disebut pertama sesungguhnya merupakan
kelanjutan dari kecerdasan IQ. Seseorang tidak akan sampai pada
kecerdasan EQ dan SI tanpa melewati kecerdasan IQ.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, ketiga model kecerdasan itu sangat
dibutuhkan terutama di kalangan pemimpin masyarakat dan lebih khusus
lagi pemimpin perusahaan.
Menurut beberapa survei ahli manajemen, tingkat prestasi IQ yang
dimiliki seorang manajer tidak berbanding lurus dengan tingkat prestasi
perusahaan yang dipimpinnya. Seorang manajer dituntut memiliki
kecerdasan ekstra berupa kecerdasan kedua (EQ) dan ketiga (SI).
Sebagai pribadi Muslim, sulit dibayangkan akan sukses menjadi abid
(hamba) dan khalifah yang sukses tanpa memiliki secara seimbang ketiga
model kecerdasan tersebut. Manusia paripurna (insan kamil) sesungguhnya
tidak lain ialah orang yang mampu memadukan secara simultan ketiga
kecerdasan tersebut di dalam dirinya.
Di sinilah kekhususan Al-Ghazali jika dibandingkan dengan Ibnu Arabi.
Al-Ghazali masih tetap berpikir realistis di dalam mengembangkan
pendapatnya. Ia masih tetap memandang penting kecerdasan ketiga atau apa
pun namanya itu tetap dibumikan.
Ia mencela para sufi yang tidak realistis memandang kenyataan
masyarakat. Mungkin itulah sebabnya ia dikategorikan sebagai penganut
tasawuf akhlaqi. Berbeda dengan Ibnu Arabi yang dikategorikan sebagai
penganut tasawuf falsafi.
Al-Ghazali mencela orang-orang yang sibuk dengan urusan sunah dan
melalaikan ibadah fardhu, mengabaikan formalitas ibadah untuk substansi
ibadah, mengabaikan substansi ibadah demi formalitas ibadah, dan waspada
terhadap yang syubhat tetapi terjebak di dalam hal yang haram.
Al-Ghazali juga mencela para ilmuwan yang tidak memedulikan yang lain
kecuali hanya ilmu, dengan kata lain ilmu untuk ilmu. Seolah-olah tidak
ada tempat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Al-Ghazali mencela ahli tasawuf yang sibuk dengan hakikat tetapi
mengabaikan syariat, sibuk membahagiakan batinnya tetapi mengabaikan
keluarga dan masyarakatnya, asyik dengan akhiratnya dan mengabaikan
dunianya, mereka memuji prestasi spiritualnya lantas mengasingkan diri
dengan orang lain, dan menganggap ilmu tasawuf paling istimewa dan
paling benar, sibuk berpolemik soal hukum tapi tidak menghargai waktu,
serta sibuk memperbanyak hukum dan peraturan tetapi semakin sedikit
mengamalkannya.
Dalam soal muamalah, Al-Ghazali juga mencela ahli muamalah yang
teperdaya karena banyak bermain di wilayah syubhat, sibuk menjalin
hablun minannas tetapi melupakan hablun minallah, sibuk mengumpul harta
tetapi tidak teliti menghitung zakatnya, dan sibuk melakukan inovasi
tetapi mengabaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah.